Tags

, , , ,

15 Januari 2014

Terlalu sering sepertinya aku menemukan hal serupa. Tentang perasaan suka jadi benci. Benci yang kemudian beralih jadi cinta. Cinta yang terselubung dalam sebuah hubungan bernama persahabatan. Ada yang bahagia, pun ada yang terluka. Hidup ya seperti itu. Hitam dan Putih, terkadang abu – abu, tak jarang seperti semburat pelangi, warna – warni cerah. Ibarat kanvas, kita lah yang menciptakan lukisan di atasnya. Hidup kita pun, kita lah yang menentukan akan berwarna apa.

Pagi ini, nggak sengaja menemukan catatan seorang teman. Tentang diam yang selama ini ku anggap sebagai bentuk dari sikap acuh nya. Memang sudah pernah aku dengar dari seorang teman lainnya, tentang persahabatan mereka dan tentang seorang pria yang hadir diantara mereka. Sepihak ku dengar cerita mereka. Persahabatan yang terjalin begitu erat, secara perlahan tanpa mereka sadari hampir saja terurai. Siapa yang salah? No one. Yup. Karena memang nggak satupun dari mereka yang bersalah. Pria itu tidak hadir begitu saja untuk berada di tengah – tengah mereka. Bukan sengaja dengan tiba – tiba ada untuk merusak hubungan mereka. Dia juga adalah seorang teman. Seorang kakak. Seorang yang mereka hormati. Yah, terkadang sedikit menjengkelkan. Setidaknya itulah poin yang tertinggal di benakku. Dan justru karena itulah aku sama sekali nggak nyangka, 2 orang temanku ini ternyata punya hubungan khusus dengannya. Dan yang lebih bikin nggak nyangka lagi adalah, mereka bisa dengan rapinya ngebungkus cerita itu, rapet banget. Setelah sekian taun, barulah aku tau. Salute!

Cinta dan sejuta cerita yang bisa tercipta, buat aku adalah seni nya hidup. Cinta bisa bikin kita hepi, sendiri, hanya berdua, atau semua orang di sekitar kita juga tersenyum karenanya. Cinta juga bisa bikin kita sedih, terpuruk, bisa sendiri atau juga dengan mereka, yang dicintai dan para sahabat. Ketika seseorang merasakan ketidak adilan dan tersakiti, ketika itu lah cinta akan menjadi tersangka utama. Cinta disalahkan. Ketika persahabatan, persaudaraan menjadi seperti arena perang, cinta juga lah yang dianggap menjadi piala kemenangan. Tapi buat ku, cinta itu cuma sebuah nama. Alias yang di pake untuk menunjukkan penentuan sikap. Istilah untuk penciptaan bahagia. Entah itu kemenangan, atau pengorbanan. Ketika ada bahagia maka disanalah cinta tertanam dan bersemi. Uddah kayak kebun aja ttugh, hehehe…..

Berterima kasihlah untuk segala macam cinta, karenanya hidup jadi berwarna. Sekalipun gara – gara cinta kita pernah jadi musuh bagi sahabat. Atau bersahabat dengan musuh. Jadi orang asing di tengah keakraban. Jadi pacar musuh. Atau juga tiba – tiba jadi musuh mantan pacar. Well, That’s life. That’s how it supposed to be. Terima kasih karena kita jadi punya banyak cerita, banyak pengalaman, banyak pembelajaran hidup. Tentang berbagi, tentang menerima, tentang memberi, ikhlas, berkorban, tersenyum , menangis, tertawa, terpuruk, bangkit dan melangkah lagi. Thak’s GOD for giving this kind of complicated feeling named LOVE…..

Advertisements